PRAMUKA.ID – Serang, Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Banten, Prof Suwaib Amiruddin, mengajak generasi muda untuk berperan aktif sebagai mitra pembangunan daerah, menjaga budaya lokal, serta menghadirkan gagasan kreatif untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat.
Ajakan tersebut disampaikan Prof Suwaib saat menjadi narasumber dalam dialog kepemudaan memperingati 98 Tahun Sumpah Pemuda yang dihadiri perwakilan pemuda dari berbagai organisasi di Provinsi Banten, Selasa (27/10/2026).
Menurut Suwaib, pemuda memiliki posisi strategis dalam mendorong kemajuan daerah. Peran tersebut tidak cukup hanya diwujudkan melalui kritik dan penyampaian aspirasi, tetapi juga harus diikuti dengan keterlibatan langsung dalam proses pembangunan.
Ia menilai, ruang dialog antara pemuda dan pemerintah saat ini semakin terbuka. Karena itu, generasi muda perlu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan gagasan, berdiskusi, serta merumuskan solusi atas berbagai persoalan di Banten.
“Pemuda harus menjadi mitra pembangunan. Bukan berarti tidak boleh kritis, tetapi kreativitas, ide, dan teknologi yang dimiliki pemuda juga harus dibahas bersama pemerintah agar pembangunan menjadi lebih kuat,” ujar Suwaib.
Ia mendorong para pemuda untuk membangun komunikasi dengan lembaga legislatif maupun pemerintah daerah. Salah satunya dengan mendatangi DPRD untuk mendiskusikan visi dan arah pembangunan yang dibutuhkan masyarakat Banten.
Menurutnya, pendekatan demonstrasi yang banyak digunakan pada masa lalu tidak harus menjadi satu-satunya cara dalam menyampaikan aspirasi.
Pemuda kini memiliki kesempatan lebih luas untuk membangun komunikasi secara langsung dengan para pemangku kebijakan.
Suwaib menegaskan, sikap kritis tetap diperlukan.
Namun, kritik akan lebih bermakna apabila disertai gagasan yang konstruktif dan solusi yang dapat diterapkan untuk kepentingan masyarakat.
“Jangan hanya berteriak di luar pagar. Pemuda harus datang, berdiskusi, menyampaikan gagasan, dan ikut memikirkan apa yang sebenarnya perlu dibangun di Banten,” katanya.
Selain menjadi mitra pembangunan, Suwaib menilai pemuda perlu terlibat dalam program-program yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, termasuk upaya memperkuat ketahanan pangan dan mengurangi beban pengeluaran rumah tangga.
Ia mencontohkan gerakan penanaman yang melibatkan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Banten.
Melalui gerakan tersebut, pemuda didorong untuk memanfaatkan pekarangan rumah dengan menanam berbagai komoditas pangan, seperti cabai dan tomat.
Suwaib menyebutkan, dalam kegiatan yang direncanakan tersebut, sekitar 240 mahasiswa dilibatkan dalam aktivitas penanaman.
Selain itu, terdapat rencana penyaluran sekitar 4.500 bibit untuk ditanam di pekarangan masyarakat.
Menurutnya, gerakan sederhana seperti menanam tanaman pangan dapat memberikan dampak ekonomi apabila dilakukan secara konsisten.
Ia menjelaskan, pengeluaran rumah tangga untuk membeli kebutuhan dapur, seperti cabai dan tomat, dapat ditekan apabila sebagian kebutuhan tersebut dipenuhi dari hasil tanaman sendiri.
“Bayangkan jika dalam sehari rumah tangga mengeluarkan Rp5.000 untuk membeli cabai dan tomat. Dalam sebulan jumlahnya bisa mencapai Rp150.000. Jika kebutuhan itu bisa dipenuhi dari pekarangan sendiri, uang tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan lainnya,” jelasnya.
Suwaib menilai, keterlibatan pemuda dalam gerakan penanaman tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, ia berharap organisasi kepemudaan dapat mengembangkan kegiatan yang tidak berhenti pada seremoni, melainkan berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.
Suwaib juga menekankan pentingnya peran pemuda dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan daerah. Menurutnya, budaya merupakan warisan yang harus terus dikenali, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ia menyoroti semakin berkurangnya pengenalan anak-anak terhadap permainan tradisional, seperti kelereng dan engklek.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya perlu dilakukan melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Salah satu upaya yang disorotnya adalah program dosen menginap di desa. Melalui pendekatan tersebut, perguruan tinggi diharapkan dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat untuk menggali kembali tradisi dan permainan lokal yang mulai ditinggalkan.
Menurut Suwaib, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan dengan mengenalkan sejarah atau menyelenggarakan kegiatan seremonial.
Diperlukan gerakan bersama yang melibatkan pemuda, masyarakat, dan kalangan akademisi agar kebudayaan tetap hidup dalam keseharian.
Ia berharap generasi muda Banten mampu menjadi penghubung antara nilai-nilai tradisional dan perkembangan zaman. Dengan begitu, kemajuan teknologi dan pembangunan daerah tetap berjalan tanpa menghilangkan identitas budaya masyarakat.
Melalui dialog kepemudaan tersebut, Suwaib berharap generasi muda semakin aktif mengambil peran dalam pembangunan, mulai dari menyampaikan gagasan kepada pemerintah, memperkuat ketahanan pangan, hingga menjaga warisan budaya lokal.
Menurutnya, pemuda yang memiliki kapasitas, kepedulian, dan kemampuan membangun komunikasi dapat menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah untuk mewujudkan pembangunan Banten yang lebih baik.
Pewarta : Fachrul Aryadi – Humas Kwarda Banten














