PRAMUKA.ID – Makassar, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pramuka Universitas Negeri Makassar (UNM) menjadi tuan rumah Latihan Search and Rescue Nasional (Laksarnas) IX Tahun 2026, sebuah kegiatan kepramukaan tingkat nasional yang mempertemukan anggota Pramuka Penegak dan Pandega dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Kegiatan yang mengusung tema “Sigap dalam Aksi, Ikhlas dalam Pengabdian, Pramuka Korps Putra Tinggi untuk Indonesia Tangguh Bencana” tersebut dilaksanakan pada Senin 28 September hingga 2 Oktober 2026 di Universitas Negeri Makassar. Kegiatan diikuti peserta dari 13 perguruan tinggi se-Indonesia, yang menjadikan Laksarnas IX sebagai ruang pembelajaran, pelatihan, sekaligus penguatan jejaring Pramuka perguruan tinggi dalam bidang kebencanaan dan Search and Rescue.
Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi UKM Pramuka UNM untuk menunjukkan peran perguruan tinggi dalam membangun kesiapsiagaan generasi muda menghadapi berbagai situasi darurat dan bencana.
Ketua Panitia Laksarnas IX 2026, Fahrul, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk meningkatkan kapasitas, keterampilan, dan kualitas anggota Pramuka, khususnya dalam penanggulangan bencana.
“Laksarnas IX menjadi sarana untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan Pramuka Penegak dan Pandega dalam penanggulangan bencana. Kegiatan ini juga menjadi ruang memperkuat koordinasi dan sinergi anggota Pramuka dalam menghadapi situasi darurat, sehingga Pramuka dapat mengambil peran nyata dalam mewujudkan Indonesia yang tangguh bencana,” ujar Fahrul.
Ketua Gugus Depan Universitas Negeri Makassar (UNM), Prof. Dr. Andi Kasmawati, M.Hum., dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta dan tamu undangan. Ia mengapresiasi kepercayaan yang diberikan kepada UNM untuk kembali menjadi tuan rumah kegiatan nasional Gerakan Pramuka.
“Saya sangat salut melihat kakak-kakak dan adik-adik semua bisa kembali melaksanakan kegiatan nasional ini. UNM selalu siap menjadi tuan rumah selama kita bersama-sama berkomitmen untuk menyukseskan setiap kegiatan,” ungkapnya.
Menurutnya, kehadiran peserta dari berbagai wilayah Indonesia menunjukkan bahwa Laksarnas IX benar-benar menjadi kegiatan nasional. Ia berharap pertemuan tersebut tidak hanya menghasilkan keterampilan teknis, tetapi juga memperkuat persaudaraan dan jejaring antarpeserta.
Prof. Andi Kasmawati menegaskan bahwa kemampuan penanggulangan bencana harus menjadi bagian penting dalam pembinaan Pramuka.
“Yang ingin kita capai melalui kegiatan pelatihan SAR Nasional ini adalah menjadikan Pramuka sebagai orang-orang yang tanggap dalam penanganan bencana. Di mana pun dan kapan pun bencana terjadi, Pramuka harus mampu hadir dan mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan tersebut,” tegasnya.
Sementara itu, Mabida Gerakan Pramuka Sulawesi Selatan yang di Wakili Dr. Muh. Iqbal Samad Suhaeb,SE MT (Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan Provinsi Sulawesi Selatan), menekankan pentingnya penguasaan berbagai keterampilan kebencanaan dalam kegiatan Laksarnas IX.
Menurutnya, keterampilan yang diberikan tidak hanya berkaitan dengan penyelamatan di darat, tetapi juga mencakup water rescue, navigasi, mitigasi bencana, hingga manajemen logistik.
“Dalam kegiatan ini kita tidak hanya berbicara tentang penyelamatan di darat, tetapi juga water rescue. Teman-teman dari Basarnas tentu sudah sangat memahami hal tersebut, dan dari pengalaman para ahli inilah kita bisa belajar dan mendapatkan banyak ilmu,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan peserta untuk tetap menguasai kemampuan navigasi menggunakan peta dan kompas meskipun teknologi digital semakin berkembang.
“Walaupun kita semua sudah memiliki handphone, di beberapa tempat masih ada blank spot. Karena itu, kemampuan navigasi menggunakan peta dan kompas tetap penting,” jelasnya.
Iqbal berharap Laksarnas IX menjadi ruang belajar yang menyenangkan sekaligus memberikan pengalaman nyata kepada peserta dalam menghadapi kondisi darurat.
“Kepada semua kakak-kakak dan adik-adik peserta, saya doakan selalu sehat, selalu bergembira, dan dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan baik,” tuturnya.
Wakil Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Bidang Pembinaan Anggota Dewasa, Dr. H Rahmasyah, M.Si, dalam sambutannya menegaskan bahwa Gerakan Pramuka harus terus berkembang mengikuti zaman, tetapi tidak boleh meninggalkan fundamental kepramukaan.
“Pramuka harus dinamis, tetapi prinsipnya tidak boleh melupakan fundamental Gerakan Pramuka. Salah satunya adalah prinsip dasar dan metode kepramukaan,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa pembinaan golongan Pandega harus lebih dinamis dan tidak hanya berorientasi pada kegiatan baris-berbaris atau seremoni.
“Jangan lagi kegiatan Pandega hanya baris-berbaris, buka latihan, kemudian tutup latihan. Pandega dapat membuka latihan dengan diskusi, merencanakan apa yang harus dilakukan dan diselesaikan dalam satu hari, satu minggu, satu bulan, bahkan satu tahun,” jelas Rahmasyah.
Ia juga mendorong anggota Pramuka untuk mengejar pencapaian Pramuka Garuda sebagai bagian dari proses pembinaan peserta didik.
Selain itu, Rahmasyah menilai pengalaman kepramukaan penting bagi mahasiswa, khususnya calon guru. Menurutnya, ketika kelak menjadi kepala sekolah, seorang lulusan perguruan tinggi akan bersentuhan langsung dengan pembinaan Gerakan Pramuka di satuan pendidikan.
“Bagi adik-adik mahasiswa yang nantinya akan menjalani pengabdian di masyarakat, Gerakan Pramuka akan menjadi salah satu bekal yang sangat luar biasa,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Rahmasyah juga mendorong UNM dan perguruan tinggi lainnya untuk merumuskan program yang dapat menjadi agenda nasional bagi Pramuka perguruan tinggi.
Ia mengusulkan pengembangan program berbasis pengabdian masyarakat seperti *Bina Desa* yang dapat mengintegrasikan keterampilan SAR, pertanian, pelayanan sosial, dan berbagai kompetensi lainnya.
“Kegiatan seperti ini perlu kita pikirkan bersama agar ada satu kegiatan yang dapat menjadi pilot project dan agenda Kementerian Pendidikan Tinggi untuk pembinaan Pramuka Pandega di perguruan tinggi,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan para purna atau alumni Racana UNM yang turut membantu penyelenggaraan Laksarnas IX.
“Kalau purnanya terlibat, banyak hal yang bisa kita selesaikan. Karena itu saya berterima kasih kepada kakak-kakak purna Racana UNM yang telah meluangkan waktu dan tenaga membantu panitia,” ungkapnya.
Laksarnas IX Tahun 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan teknis, tetapi menjadi ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, solidaritas, dan kesiapsiagaan anggota Pramuka.
Dengan mempertemukan peserta dari 13 perguruan tinggi se-Indonesia, kegiatan ini menjadi ruang bertukar pengalaman dan memperkuat jaringan kerja sama Pramuka perguruan tinggi dalam bidang kebencanaan.
Pewarta: Akhsan – Kwarda Sulsel


















