PRAMUKA.ID – Serang – Kegiatan Jamboree on the Air–Jamboree on the Internet (JOTA-JOTI) 2026 Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Banten resmi berakhir pada Minggu (18/10/2026). Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini diikuti 2.100 anggota Pramuka dari delapan Kwartir Cabang (Kwarcab) di Provinsi Banten.
Penutupan JOTA-JOTI 2026 berlangsung di Kantor Kwarda Gerakan Pramuka Banten, Jalan Raya Serang–Jakarta, Panancangan, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang.
Dalam kegiatan tersebut, Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) Daerah Banten turut memberikan pembekalan mengenai komunikasi radio, etika penggunaan frekuensi, hingga pemanfaatan radio amatir untuk mendukung kegiatan sosial dan penanganan bencana.
Ketua ORARI Daerah Banten, Noor Sodiq dengan tanda panggilan YB1RD, mengatakan materi yang diberikan kepada peserta mengacu pada petunjuk pelaksanaan (juklak) yang telah ditetapkan ORARI Daerah Banten.
“Materi yang diberikan untuk JOTA-JOTI 2026 oleh seluruh ORARI Lokal (Orlok) sesuai dengan juklak yang dikeluarkan ORDA Banten,” ujar Noor Sodiq, yang akrab disapa Cak Noor.
Menurutnya, JOTA-JOTI menjadi kesempatan bagi anggota Pramuka untuk mengenal teknologi komunikasi radio secara langsung sekaligus memahami manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
JOTA-JOTI 2026 Kwarda Banten melibatkan anggota Pramuka dari delapan Kwarcab di wilayah Provinsi Banten. Berdasarkan data penyelenggara, jumlah peserta dari masing-masing daerah mencapai 2.100 orang.
Berikut rincian peserta JOTA-JOTI 2026 dari delapan Kwarcab:
1. Kwarcab Kabupaten Serang: 200 peserta.
2. Kwarcab Kota Serang: 200 peserta.
3. Kwarcab Cilegon: 300 peserta.
4. Kwarcab Kabupaten Tangerang: 600 peserta.
5. Kwarcab Kota Tangerang: 400 peserta.
6. Kwarcab Tangerang Selatan: 200 peserta.
7. Kwarcab Pandeglang: 100 peserta.
8. Kwarcab Lebak: 100 peserta.
Keikutsertaan ribuan anggota Pramuka tersebut menjadi sarana untuk memperluas pengetahuan mengenai komunikasi radio, mengenal teknologi komunikasi alternatif, serta bertukar pengalaman dengan peserta dari berbagai daerah.
Melalui kegiatan ini, peserta juga memperoleh kesempatan mempelajari praktik komunikasi radio yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung koordinasi dalam kegiatan sosial maupun kondisi darurat.
Untuk menunjang pelaksanaan JOTA-JOTI 2026, ORARI Daerah Banten mengerahkan 64 anggota yang bertugas sebagai pendamping dan pemateri. Personel tersebut berasal dari ORDA Banten dan sejumlah ORARI Lokal di wilayah Banten.
Rinciannya terdiri atas 10 anggota ORDA Banten, 14 anggota ORLOK Tangerang Kota, 14 anggota ORLOK Cilegon, 12 anggota ORLOK Tangerang Selatan, delapan anggota ORLOK Kabupaten Tangerang, tiga anggota ORLOK Pandeglang, serta tiga anggota ORLOK Lebak.
Para anggota ORARI memberikan pendampingan agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengenal penggunaan perangkat komunikasi radio secara tepat dan bertanggung jawab.
Pembekalan tersebut turut menekankan pentingnya kedisiplinan, etika berkomunikasi, serta kepatuhan terhadap ketentuan penggunaan frekuensi radio amatir.
Materi yang disampaikan ORARI Daerah Banten mencakup pengenalan radio amatir, sejarah dan perannya di Indonesia, kode etik amatir radio, tanda panggilan atau callsign, serta fungsi dan kegiatan ORARI.
Peserta juga mendapatkan pengetahuan tentang pemanfaatan komunikasi radio dalam kegiatan sosial, termasuk pengenalan frekuensi yang digunakan untuk komunikasi darurat.
Dalam sesi teknis, peserta diperkenalkan dengan sejumlah frekuensi yang tercantum dalam materi kegiatan, yakni 7.110 kHz, 7.120 kHz, 7.065 kHz, 3.740 kHz, 3.720 kHz, dan 146.800 MHz.
Penggunaan frekuensi radio tetap harus memperhatikan alokasi yang berlaku, ketentuan perizinan, serta prosedur komunikasi yang ditetapkan oleh pihak berwenang.
Selain frekuensi darurat, peserta mempelajari sejumlah pita frekuensi radio amatir, di antaranya pita 160 meter pada rentang 1,8–2,0 MHz, 80 meter pada 3,5–3,9 MHz, 40 meter pada 7,0–7,2 MHz, 30 meter pada 10,1–10,15 MHz, dan 20 meter pada 14,0–14,35 MHz.
Pengenalan juga mencakup pita 17, 15, 12, 10, 6, dan 2 meter serta 70 sentimeter.
Pembelajaran tersebut diharapkan membantu anggota Pramuka memahami karakteristik komunikasi radio, penggunaan spektrum frekuensi, dan pentingnya mengikuti regulasi ketika melakukan komunikasi melalui radio amatir.
Cak Noor menilai JOTA-JOTI memiliki arti penting bagi pengembangan kegiatan amatir radio, terutama dalam memperluas pengabdian kepada masyarakat dan menyiapkan regenerasi anggota.
Menurutnya, keterlibatan anggota Pramuka memberikan peluang bagi ORARI untuk memperkenalkan radio amatir kepada generasi muda. Dengan begitu, mereka dapat mengenal teknologi komunikasi yang memiliki manfaat praktis bagi masyarakat.
Komunikasi radio juga dapat menjadi salah satu alternatif ketika jaringan komunikasi umum mengalami gangguan. Kemampuan tersebut relevan dalam situasi kebencanaan yang membutuhkan penyampaian informasi dan koordinasi secara cepat.
Melalui JOTA-JOTI 2026, anggota Pramuka tidak hanya memperoleh pengalaman dalam komunikasi melalui udara dan internet, tetapi juga belajar mengenai kedisiplinan, etika, keterampilan teknis, serta kepedulian sosial.
ORARI Daerah Banten berharap kegiatan ini dapat meningkatkan minat generasi muda terhadap radio amatir sekaligus memperkuat kolaborasi dengan Gerakan Pramuka.
Dengan pembekalan tersebut, JOTA-JOTI diharapkan tidak sekadar menjadi agenda tahunan Pramuka, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran teknologi komunikasi yang mendukung kegiatan kemanusiaan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

















