PRAMUKA.ID – Badung, Kegiatan Kemah Pewarta Pramuka yang diselenggarakan oleh Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Badung resmi ditutup pada Minggu (31/5/2026). Melalui pelatihan intensif ini, para peserta yang merupakan anggota Pramuka didorong untuk menjadi pewarta yang profesional, kreatif, serta bertanggung jawab dalam menyebarluaskan informasi kepada publik.
Langkah taktis Kwarcab Badung ini membidik penguatan publikasi kehumasan dari tingkat cabang hingga ke gugus depan (gudep) agar kontribusi nyata Pramuka semakin dikenal luas oleh masyarakat.
Digitalisasi Jadi Peluang, Kecepatan Harus Diimbangi Akurasi Fakta
Saat memberikan sambutan penutupan, Wakil Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat, Hubungan Masyarakat, dan Informatika (Waka Abdimas Humas dan Informatika) Kwarcab Badung, Gede Wirawan, memaparkan bahwa pesatnya digitalisasi informasi saat ini menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi kehumasan Pramuka. Setiap pewarta memiliki kewajiban moral untuk menyajikan data secara utuh, lengkap, dan sesuai fakta lapangan.
“Di era digital saat ini, penyampaian informasi yang cepat memang sangat penting. Namun, yang jauh lebih utama adalah memastikan informasi yang dipublikasikan tetap akurat, dapat dipertanggungjawabkan, serta memberikan edukasi yang bermanfaat bagi masyarakat luas,” tegas Gede Wirawan.
Ia juga mengingatkan agar pewarta muda Pramuka selalu mempertimbangkan dampak dari setiap konten yang diunggah. Produk jurnalistik yang dihasilkan harus mampu membangun karakter positif publik dan mendukung kemajuan organisasi.
Wajib Pegang Teguh Kode Etik Jurnalisme dan Literasi Digital
Senada dengan hal tersebut, Rudianto, praktisi media digital yang juga hadir sebagai salah satu narasumber utama kegiatan, menekankan pentingnya pemahaman regulasi dan etika di tengah derasnya arus komunikasi siber. Menurutnya, keterampilan teknis memproduksi konten kreatif akan sia-sia jika mengabaikan rambu-rambu hukum dan etika penyiaran.
“Kemampuan membuat konten visual atau tulisan harus diimbangi dengan pemahaman Kode Etik Jurnalistik (KEJ) serta literasi digital yang matang. Seorang pewarta Pramuka wajib memastikan setiap informasi yang disampaikan itu akurat, berimbang (cover both sides), dan bebas dari unsur hoaks,” urai Rudianto.
Pengalaman Praktis Jadi Reporter Berkesan Bagi Peserta
Materi jurnalistik, teknik fotografi, videografi, hingga optimalisasi media sosial yang diterima selama kemah tidak hanya menjadi tambahan wawasan, tetapi langsung dipraktikkan oleh peserta melalui simulasi liputan lapangan.
Salah seorang peserta kegiatan, Kak Erawati, mengaku mendapatkan bekal pengalaman baru yang sangat bernilai untuk diterapkan di pangkalan gugus depannya masing-masing.
“Kami belajar banyak tentang cara menulis berita yang terstruktur, mengambil foto dan video yang menarik hanya dengan menggunakan smartphone, serta mengelola media sosial secara positif. Pengalaman praktik langsung menjadi reporter di lapangan adalah momen yang paling berkesan bagi saya,” ungkap Kak Erawati dengan antusias.
Pewarta: Rudianto – Kwarda Bali


















