PRAMUKA.ID – Suasana penuh keakraban dan kebersamaan mewarnai malam penutupan kegiatan Kursus Mahir Dasar (KMD) Pembina Pramuka Kwarran Kahu. Kobaran Api Unggun menjadi puncak kegiatan yang tidak hanya menghadirkan kemeriahan, tetapi juga menjadi momentum refleksi, mempererat persaudaraan, serta menyalakan kembali semangat para peserta untuk mengabdikan diri dalam dunia pendidikan kepramukaan.
Di tengah suasana malam yang penuh kehangatan, Api Unggun seakan menjadi simbol perjalanan para peserta KMD Kahu selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Nyala api yang terus berkobar menggambarkan semangat yang tidak mudah padam, keberanian untuk terus belajar, serta tekad untuk menjadi pembina yang mampu memberikan keteladanan bagi generasi muda. Api yang menyala dari satu titik kemudian menerangi lingkungan di sekitarnya menjadi sebuah kiasan bahwa ilmu, pengalaman, dan kebaikan yang dimiliki seorang Pramuka hendaknya dibagikan dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Sebagai sesepuh dan pembina Acara Api Unggun, Kakak Darwis, S.Pd., LG, memberikan warna tersendiri dalam suasana Api Unggun tersebut. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa perjalanan kepramukaan bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan proses panjang dalam membangun karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, tanggung jawab, dan semangat pengabdian. Api Unggun menjadi ruang untuk mengenang perjalanan yang telah dilalui sekaligus meneguhkan kembali komitmen untuk terus menjadi pembina yang mampu mendampingi kaum muda dengan ketulusan dan keteladanan.
Dalam kepramukaan, Api Unggun memiliki filosofi yang sangat dalam. Api melambangkan semangat dan cita-cita yang harus terus dijaga agar tidak padam. Kobaran api mengajarkan keberanian untuk menghadapi tantangan, sementara cahaya yang dipancarkannya menjadi kiasan ilmu dan keteladanan yang menerangi jalan orang lain. Kayu-kayu yang tersusun dan terbakar bersama juga menggambarkan persatuan; masing-masing memiliki bentuk dan ukuran berbeda, tetapi ketika disatukan mampu menghasilkan cahaya dan kehangatan yang lebih besar.
Kesan mendalam juga disampaikan Ketua DKR Kahu, Kak Fikrian. Menurutnya, Api Unggun menjadi salah satu bagian yang sangat berkesan karena mampu mempertemukan seluruh peserta dalam suasana yang lebih santai, akrab, dan penuh kekeluargaan setelah melewati rangkaian kegiatan KMD yang cukup padat. “Bagi kami, Api Unggun bukan hanya tentang api yang menyala, tetapi tentang semangat dan persaudaraan yang diharapkan tetap menyala setelah kegiatan ini berakhir. Semoga ilmu dan pengalaman selama KMD benar-benar menjadi bekal untuk terus berkarya dan mengabdi,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Kwarran Kahu, Kakak Dra. Andi Sukmawati AZ, M.Si., LT, menyampaikan pesan agar semangat yang tumbuh selama KMD tidak berhenti ketika kegiatan resmi berakhir. Menurutnya, seorang pembina harus mampu menjadi contoh nyata bagi peserta didik, bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga menghadirkan keteladanan melalui sikap, disiplin, tanggung jawab, kepedulian, dan semangat pengabdian.
“Api Unggun malam ini hendaknya menjadi simbol bahwa semangat kita sebagai pembina jangan pernah padam. Setelah KMD selesai, justru pengabdian kita baru dimulai. Bawalah ilmu yang diperoleh untuk diterapkan di gugus depan, dampingi anak-anak dengan hati, dan jadilah pembina yang mampu menyalakan semangat generasi muda,” pesan Kakak Dra. Andi Sukmawati AZ, M.Si., LT.
Malam pun semakin meriah dengan kebersamaan, canda, tepuk tangan, dan berbagai ekspresi kegembiraan para peserta. Namun di balik kemeriahan tersebut tersimpan pesan yang jauh lebih besar: setiap Pramuka adalah bagian dari cahaya yang harus mampu menerangi sekitarnya. Api Unggun boleh padam ketika malam berakhir, tetapi semangat pengabdian, persaudaraan, dan keteladanan harus tetap menyala dalam hati setiap pembina.
Penutupan KMD Kwarran Kahu melalui Api Unggun akhirnya menjadi sebuah simbol perjalanan baru. Dari api yang menyala, para peserta diajak untuk membawa pulang bukan hanya kenangan, tetapi juga semangat untuk mendidik, menginspirasi, melayani, dan membentuk generasi muda yang tangguh, mandiri, berkarakter, serta siap berkarya untuk bangsa dan negara.
Api boleh padam, malam boleh berlalu, tetapi semangat seorang Pembina Pramuka harus terus menyala. Karena sesungguhnya, pembina bukan hanya mengajarkan tentang Pramuka—pembina menyalakan cahaya agar generasi muda mampu menemukan jalannya sendiri menuju masa depan.
Pewarta: Yusran AY.NS (Saka Tarunabumi / ISJ Sulsel #2109)























