PRAMUKA.ID – Setiap tanggal 22 Februari, dunia kepanduan memperingati Hari Pandu Sedunia. Tahun ini, sebagaimana melansir laman World Association of Girl Guides and Girl Scouts (WAGGGS), serta World Organization of the Scout Movement (WOSM) tema yang diusung adalah “Our Friendship” (Persahabatan Kita). Tema ini mengajak seluruh pandu di berbagai penjuru dunia untuk mempererat solidaritas lintas bangsa, budaya, dan bahasa dalam semangat persaudaraan global.
Sejak dirintis oleh Robert Baden-Powell, gerakan kepanduan dibangun di atas keyakinan bahwa persahabatan adalah kekuatan moral yang mampu meruntuhkan sekat perbedaan. Persahabatan dalam kepanduan bukan sekadar relasi sosial, melainkan komitmen nilai saling percaya, saling menjaga, dan saling menguatkan demi kemajuan bersama.
Di Indonesia, nilai tersebut bersemi dalam tubuh Gerakan Pramuka yang terus meneguhkan perannya sebagai wadah pembentukan karakter bangsa. Tema “Our Friendship” harus diterjemahkan bukan hanya sebagai slogan, tetapi sebagai gerakan nyata membangun jejaring kolaboratif lintas daerah, lintas komunitas, dan lintas generasi.
Di era digital yang sarat arus informasi, persahabatan memerlukan fondasi literasi. Tanpa literasi, persahabatan mudah retak oleh prasangka dan disinformasi. Dengan literasi, persahabatan tumbuh atas dasar pemahaman dan empati.
Pramuka hari ini harus tampil sebagai “pewarta nilai” menyampaikan pesan kebenaran, toleransi, dan kebajikan. Pewarta bukan sekadar penyampai berita, tetapi penjaga integritas informasi. Setiap anggota pramuka dituntut cakap membaca, kritis menyaring informasi, dan berani meluruskan narasi yang menyesatkan.
Penguatan literasi bukan hanya program tambahan, melainkan bagian dari strategi besar membangun generasi berkarakter. Membaca adalah latihan berpikir. Menulis adalah latihan bertanggung jawab. Dan berbagi informasi adalah latihan kepemimpinan moral.
Sebagai wilayah yang kaya budaya dan strategis di perlintasan bangsa, Kepulauan Riau memiliki warisan nilai Melayu yang menjunjung tinggi adab, musyawarah, dan persaudaraan. Pramuka di daerah ini harus menjadi jembatan antara kearifan lokal dan persahabatan global, menjadi duta budaya sekaligus duta literasi.
Dalam momentum Hari Pandu Sedunia ini, Harken, Wakil Ketua Bidang Kebudayaan dan Kearifan Lokal Kwartir Daerah Kepulauan Riau, menyampaikan: “Persahabatan bukan sekadar seremoni dan simbolik salam kepanduan. “Our Friendship” adalah komitmen aksi. Pramuka harus berdiri di garis depan menjaga persatuan bangsa dan memperkuat literasi masyarakat. Kita tidak boleh diam melihat generasi muda tergerus hoaks, ujaran kebencian, dan krisis keteladanan.”
Ia menegaskan bahwa pramuka harus mengambil peran strategis sebagai kekuatan moral di tengah masyarakat. “Pramuka Kepulauan Riau harus menjadi pelopor gerakan literasi berbasis budaya. Kita harus membangun ruang-ruang baca, menghidupkan diskusi kebangsaan, dan memanfaatkan media sosial sebagai kanal edukasi. Persahabatan global hanya akan bermakna jika dimulai dari solidaritas lokal yang nyata.”
Lebih jauh, Harken menekankan bahwa gerakan pramuka tidak boleh kehilangan relevansi di tengah perubahan zaman. “Jika pramuka ingin tetap menjadi garda terdepan pembinaan karakter, maka literasi harus menjadi napas gerakan. Kita harus berani berinovasi, berkolaborasi, dan menjadi pewarta harapan. Persahabatan sejati adalah persahabatan yang mencerahkan dan menggerakkan.”
Hari Pandu Sedunia 22 Februari menjadi momentum refleksi dan aksi. Dengan semangat “Our Friendship”, pramuka dipanggil untuk memperkuat jejaring persaudaraan dunia melalui literasi, budaya, dan keteladanan.
Dari Kepulauan Riau, semangat persahabatan itu diteguhkan bahwa pramuka bukan hanya simbol masa lalu, tetapi kekuatan masa depan yang membangun peradaban dengan ilmu, adab, dan solidaritas.
Pewarta: Ependi – Kwarda Kepri


















