PRAMUKA.ID, Padang (20/05/26) — Pelatih Pusat Pendidikan dan Pelatihan Daerah Gerakan Pramuka Sumatera Barat, Firsta, menegaskan pentingnya penguatan karakter generasi muda melalui materi “Pembinaan Karakter dan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” dalam kegiatan Kursus Mahir Dasar (KMD) yang diikuti oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Nahdlatul Ulama Sumatera Barat.
Materi yang disampaikan di hadapan peserta KMD mahasiswa PGSD tersebut menjadi salah satu sesi strategis dalam membentuk calon pembina Pramuka yang tidak hanya memahami teknis kepramukaan, tetapi juga mampu menjadi teladan karakter di lingkungan pendidikan dan masyarakat.
Dalam paparannya, Kak Firsta menekankan bahwa tantangan generasi muda saat ini tidak lagi sebatas persoalan akademik, tetapi juga menyangkut krisis disiplin, tanggung jawab, etika, hingga ketahanan moral akibat pengaruh perkembangan teknologi dan media sosial.
“Pembina Pramuka harus hadir sebagai figur yang mampu menanamkan nilai, membentuk kebiasaan baik, dan mengarahkan peserta didik menjadi generasi yang berkarakter kuat. Tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat bukan hanya teori, tetapi harus menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Dalam materinya, Kak Firsta menyoroti bahwa perkembangan teknologi dan arus informasi yang tidak terbendung telah membawa dampak besar terhadap perilaku generasi muda.
Menurutnya, pembina Pramuka dan calon guru tidak cukup hanya menjadi pengajar, tetapi juga harus mampu menjadi pembentuk karakter, teladan, sekaligus pengarah bagi peserta didik.
“Generasi hari ini membutuhkan figur yang mampu menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, kepedulian, dan integritas. Pramuka harus hadir sebagai ruang pembentukan karakter yang nyata, bukan hanya kegiatan seremonial,” tegasnya di hadapan peserta KMD.
Pada kesempatan tersebut, Kak Firsta juga menjelaskan konsep “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” yang menjadi pondasi pembentukan karakter generasi muda, yaitu:
- Bangun lebih awal sebagai bentuk kedisiplinan dan kesiapan menghadapi aktivitas sehari-hari.
- Beribadah dan berdoa untuk membangun spiritualitas serta akhlak yang baik.
- Rajin belajar dan gemar membaca guna meningkatkan wawasan dan kemampuan diri.
- Menjaga kebersihan dan kesehatan sebagai cerminan pola hidup sehat dan bertanggung jawab.
- Disiplin dan tepat waktu dalam menjalankan tugas maupun kewajiban.
- Peduli dan suka membantu sesama untuk menumbuhkan jiwa gotong royong dan empati sosial.
- Berani, mandiri, dan bertanggung jawab dalam mengambil keputusan serta menghadapi tantangan kehidupan.
Menurutnya, tujuh kebiasaan tersebut harus diterapkan secara konsisten sejak usia dini agar mampu membentuk generasi yang tangguh, berdaya saing, dan tetap berpegang pada nilai-nilai kebangsaan.
Ia juga menyoroti bahwa Gerakan Pramuka memiliki posisi strategis sebagai wadah pendidikan nonformal yang efektif dalam membangun kepemimpinan, kemandirian, disiplin, serta semangat gotong royong di kalangan generasi muda.
Suasana kegiatan berlangsung aktif dan interaktif. Para peserta KMD terlihat antusias mengikuti sesi diskusi, studi kasus, hingga refleksi mengenai implementasi pendidikan karakter di sekolah dasar. Materi tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan calon guru masa kini yang dituntut tidak hanya mengajar, tetapi juga membentuk kepribadian peserta didik.
Kegiatan KMD Universitas Nahdlatul Ulama Sumatera Barat sendiri menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas calon pembina Pramuka di lingkungan perguruan tinggi, sekaligus memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan Gerakan Pramuka dalam mencetak generasi muda yang unggul, berintegritas, dan berjiwa kebangsaan.
Pewarta : Febriandes




















