PRAMUKA.ID – Gerakan Pramuka dibidang Pertanian yaitu Saka Tarunabumi yang berpangkalan di Kwartir Ranting (Kwarran) Patimpeng, Kabupaten Bone terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan pertanian modern. Salah satu langkah nyata yang dilakukan adalah siap menyebarluaskan informasi mengenai berbagai teknologi pertanian yang diterapkan pada Program PM-AAS (Pertanian Modern-Advance Agriculture System) kepada seluruh insan Pramuka, khususnya Pramuka Penggalang, Penegak, dan Pandega. Melalui penyebarluasan informasi ini, diharapkan para anggota Pramuka tidak hanya memahami perkembangan teknologi pertanian, tetapi juga mampu menjadi agen informasi di lingkungan keluarga dengan menyampaikan pengetahuan tersebut kepada orang tua mereka yang sebagian besar berprofesi sebagai petani.
Pada Minggu pagi (05/07/2026), Kakak Y.A. Yahya, S.Pt., M.Si. selaku Mabisaka Tarunabumi Kwarran Patimpeng berkesempatan menyaksikan secara langsung penerapan teknologi pertanian modern di kawasan persawahan seluas 100 hektare Program PM-AAS yang berada di Desa Bontopadang dan sebagian Desa Biru, Kecamatan Kahu, Kabupaten Bone. Dalam kegiatan tersebut, beliau mengamati proses penyebaran pupuk menggunakan alat “Drone” sekaligus turut mendampingi anggota Pramuka dan Petani dalam kegiatan ini termasuk saat pengendalian hama tikus menggunakan alat kompor bakar emposan dengan bantuan tabung gas LPG 3 kilogram.
Teknologi drone pertanian merupakan salah satu inovasi yang semakin berkembang dalam mendukung pertanian presisi. Drone mampu menyebarkan pupuk secara merata dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan metode manual. Selain menghemat tenaga kerja, penggunaan drone juga meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk karena dosis dapat diatur secara akurat sesuai kebutuhan tanaman. Teknologi ini sangat membantu petani mengatasi keterbatasan tenaga kerja, mempercepat proses pemupukan pada areal yang luas, mengurangi biaya operasional, serta mendukung peningkatan produktivitas tanaman padi secara berkelanjutan. “Dengan alat ini tenaga kerja dan pupuk dapat diefisienkan, mempercepat proses pemupukan pada areal yang luas, serta alat ini dapat membantu menyebarkan pestisida untuk pengendalian hama dan penyakit” papar Kak Y.A.Yahya
Sementara itu, teknologi kompor bakar emposan merupakan metode pengendalian hama tikus yang memanfaatkan asap hasil pembakaran yang dialirkan ke dalam liang persembunyian tikus menggunakan tekanan udara. Dengan bantuan tabung gas LPG 3 kilogram, alat ini mampu menghasilkan asap dalam jumlah yang cukup sehingga tikus di dalam lubang dapat dimatikan tanpa harus menggunakan racun kimia yang berpotensi mencemari lingkungan. Teknologi ini dinilai lebih ramah lingkungan, aman bagi ekosistem persawahan, serta efektif menekan populasi hama tikus yang selama ini menjadi salah satu penyebab utama kehilangan hasil panen padi.
Lebih lanjut, Kak Y.A.Yahya menjelaskan
bahwa program PM-AAS menggabungkan enam prinsip utama, yakni sistem tanam benih langsung dengan pola rapat menggunakan drum seeder, irigasi presisi berbasis digital, mekanisasi di seluruh tahapan budidaya mulai dari traktor hingga combine harvester dan drone, pengelolaan usaha tani berbasis korporasi, intensifikasi pemupukan berimbang, serta penyesuaian teknologi dengan kondisi spesifik setiap daerah. Hasil uji lapang di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, menunjukkan produktivitas 10,4 ton per hektare dengan keuntungan sekitar Rp27 juta, sementara pada Gelar Teknologi PENAS XVII Gorontalo produktivitas bahkan mencapai 13,43 ton per hektare dengan keuntungan petani sekitar Rp16,35 juta per hektare per musim tanam. “Dikembangkan secara bertahap sejak 2025, PM-AAS kini telah diterapkan di 34 provinsi dengan total luasan sekitar 1.846 hektare per 1 Juli 2026, dan pemerintah menargetkan pengembangannya hingga 1 juta hektare” terang kak Y.A.Yahya yang pernah mendapat predikat Penyuluh Pertanian Teladan Nasional di Tahun 2016.
Dengan memadukan mekanisasi, digitalisasi, dan efisiensi sumber daya, PM-AAS diharapkan menjadi pilar baru transformasi pertanian nasional sekaligus menjawab tantangan pertumbuhan penduduk, perubahan iklim, dan keterbatasan lahan produktif.
Melalui program ini, Saka Tarunabumi menegaskan perannya sebagai wadah pendidikan kepramukaan yang tidak hanya membentuk karakter generasi muda, tetapi juga membekali anggotanya dengan pengetahuan, keterampilan, dan kepedulian terhadap pembangunan sektor pertanian. “Besar harapan agar setiap anggota Pramuka mampu menjadi penyambung informasi teknologi pertanian modern kepada orangtua/keluarga dan masyarakat di sekitarnya” jelas kak Y.A.Yahya
Dengan demikian, inovasi-inovasi yang diterapkan dalam Program PM-AAS dapat dikenal lebih luas, mendorong percepatan modernisasi pertanian, meningkatkan kesejahteraan petani, serta mewujudkan ketahanan pangan menuju Indonesia yang maju, mandiri, dan berkelanjutan.
Pewarta: Yusran AY.NS – Kwarran Patimpeng / ISJ Sulsel #2109




















