PRAMUKA.ID – Di hari kedua (Selasa, 28/04/2026) Kegiatan Avesco (An-Nur Veran Scout Competition) para peserta mulai mengikuti sajian lomba yang diselenggarakan di lapangan Desa Nusa, Kecamatan Kahu, Kabupaten Bone, Sulsel.
Di bawah naungan langit biru yang terik dan membara, lapangan Desa Nusa menjadi saksi bisu perjuangan para tunas muda andalan. Selasa pagi, tepat pukul 08.00 WITA, genderang lomba Senam Pramuka Jilid II resmi ditabuh. Meski matahari kian meninggi dan menyengat kulit, hal itu tak sedikit pun menyurutkan binar semangat di mata para peserta.
Sebanyak 10 tim dari golongan Penegak dan Penggalang berkumpul dengan satu tujuan: membuktikan bahwa disiplin dan seni bisa berpadu indah di dalam kotak pembatas berukuran 10×8 meter.
Setiap tim tampil dengan penuh totalitas sesuai nomor urut yang telah dikantongi. Begitu musik iringan dari panitia menggema dan juri memberikan aba-aba, seluruh atensi penonton tersedot ke tengah lapangan.
Aturan mainnya cukup ketat. Para peserta dituntut untuk tetap berada di dalam kafling yang telah ditentukan. “Satu langkah saja keluar garis, poin akan terpangkas,” ujar salah satu panitia di pinggir lapangan. Ketegasan ini bukan sekadar aturan, melainkan pelajaran tentang fokus dan pengendalian diri di bawah tekanan.
Penilaian dilakukan secara menyeluruh, mencakup tiga fase krusial; Pemanasan (Warming Up): Kesiapan otot dan transisi awal. Dilanjutkan Gerakan Inti yaitu ketepatan gerak yang harus presisi sesuai pakem Senam Pramuka Jilid II. Kemudian fase
Pendinginan yaitu Keanggunan transisi menuju relaksasi.
Menariknya, meski gerakan dasar bersifat mutlak, panitia memberikan ruang bagi variasi formasi. Di sinilah kreativitas meledak. Ada tim yang menggunakan aksesoris tambahan untuk mempercantik tampilan, selama tidak menghambat kelincahan gerak mereka.
Menurut penanggung jawab Avesco 2026, Kakak Sahrah, SPd yang juga selalu pembina Pramuka MA An-Nur Nusa bahwa para dewan juri terlihat bekerja ekstra keras untuk menentukan pemenang yang akan diumumkan diakhir kegiatan nanti. Adapun penilaiannya berdasarkan indikator yang telah ditentukan diantaranya yaitu kekompakan dan semangat para peserta dengan energi kolektif tim di bawah panas terik. Kemudian penilaian Kreativitas dan Kostum yaitu estetika visual yang mendukung tema Pramuka. “Gerakan mereka juga dinilai dari kesesuaian musik yaitu sinkronisasi antara ketukan irama dengan ayunan tangan dan kaki. Selai itu Ketepatan Gerakan dengan Kepatuhan terhadap teknik senam yang benar” jelas kak Sahrah
Tepat pukul 11.30 WITA, rangkaian lomba berakhir. Meski seragam nampak basah oleh keringat, senyum puas terpancar dari wajah para anggota Pramuka. Kegiatan ini bukan hanya soal siapa yang membawa pulang piala, tetapi tentang bagaimana generasi muda Pramuka di 3 Kabupaten se-Sulsel belajar tentang resiliensi (ketangguhan).
”Matahari mungkin panas, tapi semangat kami jauh lebih membara. Pramuka mengajarkan kami bahwa tantangan cuaca bukanlah alasan untuk berhenti bergerak kompak,” ungkap salah satu peserta dengan bangga.
Lomba Senam Pramuka Jilid II ini sukses menjadi momentum pengingat bahwa di dalam tubuh yang sehat dan gerak yang serasi, terdapat jiwa Pramuka yang kuat dan tak pantang menyerah.
Pewarta: Yusran AY.NS – Komisi Saka, Sako dan Gugusdarma, Kwarda Sulsel























