PRAMUKA.ID – Gelaran Raimuna Ranting (Rairan) Banyuwangi 2026 patut diapresiasi. Diselenggarakan oleh Kwartir Ranting Gerakan Pramuka Banyuwangi pada hari Sabtu hingga Minggu, 14–15 Februari 2026 di kompleks Kantor Kecamatan Banyuwangi.
Bagi Pramuka Penegak dan Pandega, ada kecenderungan berbahaya yang kerap tak disadari, terjebak pada anggaran dan gengsi.
Seolah-olah sebuah Raimuna baru dianggap berhasil jika panggungnya besar, dan menelan biaya yang fantastis. Padahal, merujuk pada Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 13/KN/1978, Raimuna hanyalah pertemuan dalam bentuk perkemahan yang bersifat rekreatif dan edukatif. Sederhana, jelas, dan tidak pernah mensyaratkan kemewahan.
Namun di banyak tempat, Raimuna justru “disakralkan” hingga terasa langka karena dianggap harus besar dan bergengsi. Akibatnya, Dewan Kerja kerap mundur sebelum bertanding.
Di titik ini, kepemimpinan diuji. Apakah Dewan Kerja Pramuka Penegak dan Pandega berani memimpin dengan keberanian berpikir sederhana, atau tunduk pada tekanan gengsi?
Rairan Banyuwangi 2026 menawarkan kritik sekaligus solusi. Kegiatan ini menyasar persoalan konkret di gugusdepan, pencapaian SKU Bantara poin 11 tentang literasi AD/ART.
Peserta diajak berdiskusi, lalu diuji melalui permainan Monopoli bertema AD/ART. Pendekatan ini memadukan literasi, strategi, dan unsur keberuntungan.
Pertama, ia mengubah materi yang kerap dianggap kaku menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan dalam bentuk permainan.
Kedua, permainan ini memaksa peserta menggabungkan literasi dan strategi, memahami isi AD/ART sekaligus mengambil keputusan taktis untuk mengembangkan “aset”.
Ketiga, unsur kompetisi membuat evaluasi berjalan objektif dan terukur; kecil kemungkinan hasil imbang, sehingga kepemimpinan dan kecermatan benar-benar teruji.
Keempat, adanya unsur keberuntungan (hoki) justru melatih kesiapan mental menghadapi variabel tak terduga, sebuah simulasi kecil dari dinamika organisasi yang sesungguhnya.
Dewan Kerja sebagai penyelenggara Raimuna harus berani mematahkan mitos bahwa kualitas selalu identik dengan biaya besar. Gerakan Pramuka lahir dari gagasan, bukan dari gemerlap panggung.
Raimuna semestinya menjadi ruang bertumbuh yang murah, meriah, dan manfaat, bukan ajang gengsi yang berakhir sebagai mimpi di angan-angan.
Penulis Opini: Mohamad Arif Fajartono, SST, M.Med.Kom – Pelatih Pembina Pramuka di Pusdiklatcab Banyuwangi

















