PRAMUKA.ID – Pramuka Peduli bersama Ubaloka Purbalingga, Dewan Kerja Ranting (DKR), serta para relawan melaksanakan aksi pembersihan material pascabencana banjir bandang di wilayah Desa Serang, khususnya Dusun Kaliurip. Minggu, 25 Januari 2026. Kegiatan kemanusiaan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak bencana alam akibat luapan air sungai dan longsor yang melanda di desa Serang dan sekitarnya.
Tak kurang dari 70 personel anggota Pramuka terlibat pada kegiatan kemanusiaan ini. Mereka terbagi di 2 lokasi berbeda, yaitu lokasi pembersihan material longsonr di dusun kaliurip dan juga di dapur umum desa Serang. Selain anggota Pramuka dari Kwarcab Purbalingga, ada juga bantuan dari anggota unit Bantu Pertolongan Pramuka (Ubaloka) Banyumas.
Para relawan bahu-membahu membersihkan sisa-sisa material banjir berupa lumpur, pasir, kayu, bebatuan, serta puing-puing bangunan yang terbawa arus. Selain pembersihan lingkungan dan rumah warga, kegiatan ini juga bertujuan untuk membantu mempercepat pemulihan kondisi pascabencana agar masyarakat dapat kembali beraktivitas secara normal.
Bencana banjir yang terjadi pada hari Sabtu, 24 Januari 2026 dini hari ini memberikan dampak cukup luas dan parah di beberapa desa. Di Desa Serang, khususnya Dusun Kaliurip, terbilang cukup parah. Berdasarkan data sementara, sebanyak 36 rumah mengalami rusak berat dan 6 rumah lainnya rata dengan tanah. Akibat kondisi tersebut, sekitar 500 jiwa terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Di Desa Sangkanayu, tercatat sebanyak 78 rumah terdampak banjir. Dari jumlah tersebut, 7 rumah hanyut terbawa arus, 3 rumah mengalami rusak berat, serta puluhan hewan ternak dilaporkan hanyut atau mati. Selain itu, dua jembatan terputus, tujuh sepeda motor dan dua mobil hilang terbawa derasnya arus banjir.
Sementara itu, di Desa Kutabawa, tepatnya Dusun Bambangan, banjir menyebabkan 29 rumah mengalami rusak ringan. Tidak hanya permukiman warga, sektor pertanian juga terdampak cukup signifikan, dengan sekitar 60 hektare lahan pertanian mengalami gagal panen. Selain itu, sebanyak 1.000 sak pupuk dan berbagai alat pertanian hilang, tiga sepeda motor hanyut, serta jalan kabupaten tertutup longsor sepanjang kurang lebih 12 meter. Jembatan penghubung Kutabawa–Clekatakan pun dilaporkan ambruk akibat terjangan banjir dan longsor.
Hingga saat ini, warga masih membutuhkan bantuan logistik, tenaga, serta dukungan dari berbagai pihak untuk pemulihan pascabencana.
Ketua RW 06 Dusun Kaliurip, Kak Marno, menyampaikan tanggapannya terkait musibah banjir yang menimpa wilayahnya. Ia mengatakan bahwa kejadian ini merupakan kehendak Tuhan Yang Maha Esa dan menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat untuk senantiasa waspada terhadap potensi bencana alam.
“Ini adalah kehendak Tuhan, dan semuanya kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Intinya kita tetap waspada,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan harapannya kepada pemerintah setempat agar dapat segera mengambil langkah-langkah penanganan lanjutan demi mempercepat pemulihan kondisi lingkungan dan kehidupan masyarakat.
“Harapan saya, khususnya untuk masyarakat Desa Serang di sini, pemerintah setempat dapat mengondisikan agar kondisi bisa lebih cepat membaik.” Tambahnya.
Selain di Dusun Kaliurip, dampak banjir juga dirasakan di Dusun Gunung Malang. Di wilayah tersebut tercatat 12 rumah mengalami rusak berat, 6 rumah terancam, dua jalan kabupaten terputus, serta dua jembatan putus. Selain kerusakan infrastruktur dan permukiman, bencana banjir di Dusun Gunung Malang juga mengakibatkan korban jiwa, dengan satu warga mengalami luka berat dan satu korban meninggal dunia.
Di akhir penyampaiannya, Kak Marno juga menyampaikan pesan dan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh relawan yang telah membantu dalam proses pembersihan dan penanganan pascabencana.
“Untuk para relawan yang telah senantiasa membantu dalam pembersihan material-material banjir, saya pribadi dan khususnya masyarakat Dusun Kaliurip di sini sangat-sangat berterima kasih.” Ungkapnya.
Aksi kemanusiaan ini menjadi wujud nyata kepedulian dan semangat gotong royong Pramuka serta para relawan dalam membantu masyarakat yang terdampak bencana. Sekaligus memperkuat solidaritas sosial di tengah musibah.
Melalui kerja sama berbagai pihak, proses pemulihan pascabencana dapat berjalan dengan lebih cepat dan masyarakat dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari secara normal.
Pewarta: Devi Lestari






















