PRAMUKA.ID – Denpasar, Dalam upaya meningkatkan kapasitas pelatih kepramukaan serta memperkuat jejaring kerja sama internasional, Kwartir Daerah Bali bekerja sama dengan World Organization of the Scout Movement (WOSM) Asia-Pacific Region menyelenggarakan Workshop Internasional Pelatihan Kepramukaan bertajuk “Innovative Scout Training Methods: Asia-Pacific Best Practices for Bali”.
Kegiatan tersebut digelar pada Sabtu, 7 Maret 2026 di Aula Sekretariat Kwarda Bali, Denpasar, dan diikuti oleh sekitar 50 peserta yang terdiri dari pengurus Kwarda Bali serta perwakilan Kwartir Cabang Gerakan Pramuka se-Bali.
Workshop ini menghadirkan sejumlah tokoh senior kepramukaan dari kawasan Asia-Pasifik. Di antaranya adalah J. Rizal C. Pangilinan selaku Regional Director WOSM Asia-Pacific yang memaparkan gambaran umum mengenai WOSM dan perkembangan gerakan kepanduan dunia.
Selain itu, Hiroshi Shimada, First Vice-Chairman Asia-Pacific Regional Scout Committee, menyampaikan materi mengenai konsep Adult in Scouting yang menekankan pentingnya peran orang dewasa dalam mendukung pendidikan karakter generasi muda melalui kegiatan kepramukaan.
Materi mengenai kebijakan perlindungan anggota Pramuka melalui konsep Safe From Harm disampaikan oleh Syd Castillo selaku Director for Educational Methods WOSM Asia-Pacific.
Sementara itu, perwakilan dari Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, yakni Nauli Fitria Dwi Damayanti yang menjabat Kepala Bagian Kerja Sama Luar Negeri, turut memberikan paparan terkait penguatan kerja sama internasional dalam pengembangan program kepramukaan di Indonesia.
Ketua Kwartir Daerah Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai workshop ini menjadi momentum penting bagi pengembangan gerakan Pramuka di Bali.
“Ini adalah momentum bersejarah bagi Pramuka Bali. Kami mendapat kesempatan untuk belajar langsung dari pusat kekuatan gerakan Pramuka di kawasan Asia-Pasifik, mulai dari bagaimana Jepang mengembangkan kepemimpinan karakter hingga bagaimana Filipina membangun sistem pelatihan yang terstruktur,” ujarnya.
Cok Ace, sapaan akrabnya, juga menyampaikan tiga harapan dari penyelenggaraan workshop tersebut. Pertama, Kwarda Bali berharap dapat mempelajari berbagai metode pelatihan inovatif yang telah terbukti efektif di negara lain namun tetap dapat diterapkan sesuai kondisi dan infrastruktur yang ada di Bali.
Kedua, kegiatan ini diharapkan mampu membangun jejaring kerja sama jangka panjang antara Kwarda Bali dengan organisasi kepanduan di kawasan Asia-Pasifik. Ia bahkan berharap Bali dapat menjadi proyek percontohan (pilot project) bagi sejumlah program WOSM di Indonesia.
Ketiga, ia menegaskan komitmen Pramuka Bali untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan kepramukaan sehingga dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia, bahkan di kawasan Asia-Pasifik.
Melalui workshop ini, Kwarda Bali berharap para pelatih dan pengurus Pramuka di daerah dapat memperoleh wawasan baru mengenai metode pelatihan modern, penguatan perlindungan anggota, serta pengembangan program pendidikan karakter yang relevan dengan tantangan generasi muda saat ini.
Pewarta: Ariek PW – Anggota Pusdatin Kwarda Bali



















