PRAMUKA.ID – Hari Baden-Powell ke-169 menjadi lebih dari sekadar peringatan sejarah. Momentum ini menjelma sebagai ruang refleksi sejauh mana nilai-nilai yang diwariskan tetap hidup dan menjawab tantangan zaman.
Di berbagai daerah, para Ketua Dewan Kerja Daerah (DKD) memaknai peringatan ini dengan semangat yang sama, bahwa Pramuka harus terus relevan, adaptif, dan hadir nyata di tengah masyarakat.
Ketua DKD Lampung, Kak Rohit, menegaskan bahwa peringatan ini adalah momentum transformasi. Ia menyebut, “Peringatan hari Baden-Powell ke-169 ini adalah momentum untuk mentransformasi nilai dasar Baden-Powell menjadi aksi nyata yang adaptif.”
Menurutnya, Pramuka di Lampung harus hadir sebagai solusi kreatif berbasis potensi lokal dan teknologi, demi menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri.
Semangat untuk beradaptasi juga disampaikan Ketua DKD Kalimantan Utara, Kak Erma. Baginya, peringatan ini bukan sekadar seremoni, tetapi pengingat perjalanan panjang organisasi.
“Pramuka terus beradaptasi seperti tunas kelapa yang menjadi lambang kita di Indonesia, namun tidak meninggalkan nilai-nilai dasar Kepramukaan,” ujarnya.
Dengan menjaga dan mengamalkan Tri Satya dan Dasa Dharma, ia optimistis Pramuka akan tetap relevan di setiap generasi.
Di Jawa Timur, Ketua DKD, Kak Yusya menyoroti realitas dunia yang semakin cepat dan digital.
“Nilai-nilai seperti kemandirian, kepemimpinan, dan kepedulian sosial justru menjadi semakin krusial,” ungkapnya.
Di tengah perubahan teknologi, kebutuhan akan karakter yang tangguh dan etika yang kuat tetap tidak tergantikan.
Sementara itu, Ketua DKD Sulawesi Tenggara, Kak Ema, melihat momentum ini sebagai kesempatan merefleksikan nilai keberanian, kepedulian, dan kerja sama. Ia menekankan pentingnya adaptasi program agar lebih dekat dengan generasi muda.
“Kita perlu mengadaptasi kegiatan dengan minat generasi muda, seperti memanfaatkan teknologi dan inovasi,” jelasnya, seraya menambahkan bahwa pelibatan komunitas lokal menjadi kunci memperkuat partisipasi.
Ketua DKD Bali, Kak Adi menyebut peringatan ini sebagai “trigger positif” untuk mengevaluasi implementasi nilai Pramuka. Di tengah kuatnya aktivitas budaya dan keagamaan, ia berharap setiap Pramuka mampu menghidupkan nilai-nilai tersebut dalam keseharian.
“Nilai-nilai Pramuka berjalan beriringan dengan perkembangan generasi saat ini,” katanya.
Menutup rangkaian refleksi, Ketua DKD Papua Barat Daya, Kak Yane, menekankan pentingnya pemerataan.
“Bukan sekadar seremoni, tetapi komitmen untuk memastikan Gerakan Pramuka hadir secara merata dan adil bagi setiap anak muda Papua,” tegasnya.
Ia berharap pembinaan dapat menjangkau wilayah terpencil dan membuka akses setara untuk belajar serta memimpin, sehingga generasi muda Papua memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.
Dari seluruh penjuru di Indonesia, satu benang merah terlihat jelas bahwa Hari Baden-Powell ke-169 adalah tentang menjaga warisan nilai sekaligus menjawab tantangan zaman.
Pramuka tidak hanya dikenang sebagai gerakan sejarah tetapi dihidupkan sebagai ruang pembentukan karakter dan kepemimpinan generasi muda Indonesia hari ini.
Salam Pramuka.
Penulis : Riris Hafiza
















