PRAMUKA.ID – Cibubur – Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia menegaskan pentingnya peran strategis Gerakan Pramuka dalam mengakselerasi swasembada pangan menuju Indonesia Emas 2045. Hal ini disampaikan oleh Staf Ahli Bidang Manajemen Konektivitas Kemenko Pangan, Dr. Prayudi Syamsuri, S.P., M.Si. mewakili Menko Pangan RI pada Rapat Kerja Nasional Gerakan Pramuka di Taman Rekreasi Wiladatika Cibubur, 28 Januari 2026.
Ditekankan bahwa ketahanan pangan merupakan pilar utama stabilitas nasional. Mengingat struktur demografi Indonesia yang akan didominasi oleh generasi muda pada tahun 2045, keterlibatan Pramuka dalam sektor pangan menjadi krusial untuk menghadapi tantangan krisis pangan global dan perubahan iklim. Dalam paparannya, Kemenko Pangan mengatakan bahwa optimalisasi swasembada pangan harus mencakup berbagai komoditas strategis mulai dari padi, jagung, tebu, hingga sektor perikanan dan peternakan.
Gerakan Pramuka diharapkan mampu menjadi agen perubahan dalam memperkuat hilirisasi produk pangan dan mengadopsi teknologi pertanian modern. Transformasi ini melibatkan pemanfaatan teknologi 4.0 seperti Internet of Things (IoT), big data, robotik, serta kecerdasan buatan (AI) dalam sistem pertanian presisi.
“Produktivitas berbicara efisiensi juga. Seperti olahraga renang, meski panjang kolamnya tetap, selalu saja ada rekor dunia baru pecah, karena dalam renang tersebut sudah ada teknologi yang masuk. Jadi semakin presisi gerakannya, semakin kecil salah sehingga bisa memecahkan rekor dunia. Dalam pertanian pun kita harus hadir dengan ‘pertanian presisi’. Kita tidak bisa lagi sekadar menyebar pupuk secara rata; efisiensi sumber daya melalui teknologi adalah keharusan,” imbuhnya.
Selain aspek teknologi, Prayudi juga menyoroti pentingnya manajemen konektivitas dan logistik pangan untuk menjaga kestabilan harga serta ketersediaan stok di seluruh wilayah. Kemenko Pangan mendorong Gerakan Pramuka untuk ikut serta dalam gerakan ekonomi hijau, termasuk pengembangan energi terbarukan berbasis biomassa dan pengelolaan sampah menjadi energi (PSEL). Langkah ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam pengendalian emisi gas rumah kaca dan penerapan nilai ekonomi karbon.
Kemenko Pangan menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan Gerakan Pramuka merupakan kunci untuk mencapai kedaulatan pangan. Dengan jaringan organisasi yang luas, Pramuka memiliki potensi besar untuk mengedukasi masyarakat mengenai konsumsi pangan yang berkelanjutan dan diversifikasi pangan lokal.
“Kami titip penguatan karakter tadi, yaitu budaya konsumsi kita yang perlu kita didik dari awal. Gen Z dan Gen Milenial inilah yang akan memimpin Indonesia di tahun 2045, maka budaya konsumsi yang bijak harus menjadi identitas mereka,” tegas Dr. Prayudi di hadapan peserta Rakernas.
Ke depannya diharapkan lahir instruktur-instruktur pangan dari kalangan Pramuka yang mampu mendampingi masyarakat dalam mengelola potensi sumber daya alam secara bijak. Terakhir, Dr. Prayudi menitipkan penguatan karakter terkait budaya konsumsi. Ia mengajak Pramuka menjadi garda terdepan dalam mendidik anggotanya menjadi konsumen cerdas melalui gerakan zero waste.
“Jangan sampai ada sebutir nasi pun terbuang, karena sumber daya untuk menghasilkannya sangat besar. Oleh karena itu, mari kita gaungkan bersama tagline: ‘Selamatkan Walau Sebutir’,” pungkasnya.
























